semua...........

Kamis, 02 Desember 2010

Setuju Vol.13

HADIAH ULANG TAHUN


            Mita sibuk berkeliling di toko aksesoris ‘intan’ untuk mencari kado ulang tahun buat wini. Sahabatnya yang satu ini akan berulang tahun ke-12 minggu depan. Mita sendiri bingung apa yang cocok buat wini yang suka bercanda.
“wini suka yang mengagetkan tapi lucu. Wini nggak suka yang terlalu formal dan serius. Jadi apa ya?” kata mita pada dirinya sendiri. Ditoko ini, mita mendapat 3 pilihan. Yaitu gelang bertuliskan friend’s forever, lalu stiker laptop bergambar spongebob, kesukaan wini, lalu satu lagi adalah komik kesukaan wini.
“ah, wini nggak suka biasa!” putus mita. Ia keluar dari toko itu dan akhirnya pulang kerumahnya. Mita berbaring di kasur, menatap pajangan foto mereka berdua.
“ kenapa aku tidak berkonsultasi pada mbah dukun? Eh, danu” kata mita sendiri. Ia mencari danu, kakaknya yang jahil nan lucu. Biasanya danu bisa memecahkan masalah mita. Lagipula selera humor danu dan wini sama.
“kak, kalau wini ulang tahun, enaknya kasih apa ya?” Tanya mita. Danu yang sedang menge-cat ulang sepedanya berhenti sebentar.
“hmm… apa ya? Sebentar, wini yang anaknya gigi jelek itu ya?”Tanya danu mengejek.
“plis deh kak, ini serius. Kira-kira kado apa yang cocok untuk wini?” Tanya mita lagi. danu tertawa.
“oke-oke. Datang aja ke toko jahil si bule. Nanti cari aja hadiah yang cocok” kata danu sambil kembali mengocok cat piloxnya.
Dengan cepat mita pergi ke toko jahil ‘naughty shop’. Disana ada beberapa teman kakaknya yang mita kenal.
“cari apa poni keriting?” Tanya david, pemilik toko itu. Mita tidak menggubris david. Ia sibuk berkeliling lagi. sebuah jepitan kumbang menarik perhatiannya.
“kak, ini berapa?” Tanya mita pada david.
“gratis buat kamu” kata david tersenyum nakal. Mita melirik curiga. Diambilnya sebuah jepitan itu, lalu meletakkannya ditangan david. Tiba-tiba ada air berwarna oranye menyebur dari atas jepitan itu. Mita merengut kesal, lalu keluar dari toko jahil itu.
Mita pulang lagi kerumah. Sia-sia pencariannya seharian ini. Ia ingin sekali memberikan kado ultah yang lucu, dan bisa membuat wini ingat terus sama dia. Tiba-tiba, sepintas ide lucu yang tidak akan terbayangkan sebelumnya. Mita langsung bergegas ke toserba yang ada di seberang jalan. Tak lama kemudian, ia keluar membawa kotak yang tersampul rapi dengan kertas kado berwarna pink. Isinya? Ada deh!
***
Pesta ultah wini diselenggarakan di puncak. Semua tamu yang berjumlah 20 orang teman-teman akrab wini sedang menyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun’ untuk wini. Wini tersenyum senang. Acaranya berjalan mulus. Dan tepat jam 12 malam, acara baru berakhir. Para tamu sudah memasuki villa wini dan beristirahat.  Mita diajak masuk kekamar wini buat menemani membuka kado.
“yang mana deluan ya mit?” Tanya wini.
“yang itu aja! Yang paling besar” jawab mita memberi usul. Wini dengan senyum cerianya dengan lincah membuka kado pertama yang terbesar itu.
“wow! Isinya perlengkapan sekolah!” kata wini.
“akukan tidak suka ke sekolah. Nampaknya semua orang menyuruhku rajin sekolah ya!” kata wini lagi bercanda saat mendapati kado kelimanya alat tulis lagi.
“hahaha! Mungkin” kata mita. Ia mengumpulkan sampah kertas yang berserakan. Mita terkikik.
“wini… wini… kamu nggak hapus make up mu? Luntur tuh!” kata mita disusul dengan tawa wini yang khas.
“betul! Aku terlalu semangat ya?” gurau wini berdiri dan berjalan menuju wc untuk cuci muka. Disaat itu, mita mengeluarkan kado spesialnya lalu meletakkannya di antara tumpukan kado yang lain. Wini kembali lagi dengan baju biasa. Rambutnya dikuncir kuda. Ia siap membuka kado yang lain.
“ayo kita buka lagi”
“wow! Boneka!” seru wini.
“casing hp!”
“voucher pulsa!”
“buku cerita!”
“bingkai foto!”
“pinsil lagi!”
“boneka lagi”
“ya… gitu-gitu doang!” gerutu wini memandang hadiah-hadiah yang sudah selesai di buka.
“yang itu belum win!” seru mita. Kadonya belum dibuka wini. Mungkin jadi yang paling mengejutkan-dan special
“oke, semoga bukan pinsil, bukan pena, bukan boneka, bukan buku, bukan penghapus, bukan bingkai foto, bukan..” kata wini berdoa sambil memegangg kado terakhir itu.
“sudah lah, win. Panjang banget doa mu!” kata mita. Wini tertawa.
“ya… ya. Kayaknya kau semangat banget sama kado yang ini. Punyamu ya???” Tanya wini penuh selidik.
“hehe. Iya” ucap mita sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ha!!!” wini kaget melihat isi kado dari mita! Sebuah sikat gigi warna pelangi dan juga pasta gigi kecil.
“hahaha!!!!” lanjut wini beberapa saat kemudian. Ia merangkul mita.
“thank’s ya! Ini kado paling lucu dan paling berguna!” kata wini. Mita senyum-senyum. Gigi wini memang kuning seperti jagung. Kenapa wini tidak sikat gigi coba? karena sikat giginya malas diganti dan sekarang bentuknya sudah macam sapu ijuk. Jarang ada yang menegurnya agar sikat gigi. Wini… wini...    

PERMATA DANAU



Bengkulu 27 Desember 2009 siang
“Jangan main jauh-jauh ya, nanti tenggelam!” sahut kak Rafael.
Aku dan Naya, teman baruku tersenyum kecil. Kami berdua kan jago berenang. Nggak perlu dicemaskan dong. Pikirku.
Tapi tiba-tiba, sesuatu menyeret kami berdua. Arus danau dendam yang kuat, langsung menyeret kami ke tengah. Kak Rafael yang jelas tidak bisa berenang, langsung memanggil Kak Oki dan langsung menyelamatkan kami. Semua kejadian begitu cepat. Aku melihat Naya menggapai-gapai lemas. Seperti kekuatan berenang kami hilang, kami tak bisa melawan. Semuanya lalu gelap.
***
Bengkulu, 20 Desember 2009
Pagi ini, aku dan keluargaku sampai juga di rumah Opa dan Omaku yang ada di Bengkulu. Kami datang dari Jakarta untuk membesuk Opa yang sedang sakit. Mulanya, aku sangat tidak suka dengan keadaan disini. Gara-gara aku sudah membuat rencanan berkemah dengan sahabat-sahabat ku yang ada di Jakarta. Tapi pemandangan dan masakan oma yang berbeda dari yang di rumahku membuat hatiku gembira juga sampai di Bengkulu.
“Kak Rafa, kemarin janji temanin dinda lihat bunga Raflesia kan?” tanyaku pada kakakku yang paling baik sedunia itu. Oya, rumah Opa ku ada di Sukamerindu. Opa ku dulu dosen. Tapi sekarang sudah pensiun dan diurus oleh adik ayahku, Tante Fina.
“Iya. Pokoknya beres. Nanti kita minta antarin abang Oki ya!” kata Kak Rafael. Aku bergidik. Kak Oki itu kakak sepupuku yang tampangnya seram. Umurnya baru 16 tahun. Tapi tampangnya kayak bapak-bapak 40 tahun. Kak Oki adalah satu-satunya anak Tante Fina.
“Masa sama Kak Oki sih?” aku memasang tampang ketakutan. Kak Rafael tertawa-tawa. Aku cemberut. Kak Rafael tambah tertawa lagi.
“Kak Rafa egois!” kataku cepat. Aku memang sangat suka ngambek. Jadi aku langsung lari keluar. Kak Rafael berhenti tertawa dan merasa bersalah. Tapi aku sudah terlanjur lari keluar.
***
Aku masih menangis di bawah sebuah pohon beringin yang lumayan besar dan teduh. Tiba-tiba, ada seseorang yang menabrak tubuhku dari belakang. Ketika aku menoleh, ada seorang anak sebayaku sedang tergesa-gesa seperti dikejar hantu.
“Ma… maaf” katanya buru-buru. Anak itu mau berlari lagi tapi tiga orang anak laki-laki yang mengejarnya, sudah mendatanginya.
“Mau kemana lagi kamu Naya?” kata seorang anak laki-laki yang paling jangkung.
“Tampar aja kak!” kata anak laki-laki lain yang bertopi merah. Mereka langsung mendekati Naya dan ingin memukulnya. Aku yang pintar karate (sebenarnya, nggak juga sih!) tidak bisa tinggal diam, ada penganiayaan di depanku !
“Stop!!!” teriakku. Anak yang paling jangkung itu menghentikan tangannya yang sudah berada tepat di atas pipi gadis yang ternyata bernama Nayai.
“Mau apa kamu gadis kecil?” tanya seorang anak lagi yang memakai kaos warna hitam dengan kasar. Kalau diukur dengan ukuran anak SMP, tubuhku memang mungil dan kerap diremehkan.
“Jangan sakiti dia!” kataku cepat.
“Mau jadi pahlawan kesiangan ya?” tanya si jangkung meremehkan. Tak buang-buang waktu aku langsung menendang perutnya. Melihat kakaknya jatuh, kedua anak lain langsung menyerangku. Kekuatanku memang kecil, tapi setelah ku tendang kepala mereka,, mereka berdua langsung jatuh terkapar.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Naya. Aku menggeleng.
“Ada apa sih? Kok mereka nyerang kamu?” tanyaku sambil duduk lagi. Ketiga anak tadi sudah bangkit dan langsung kabur.
“Mereka kakak-kakakku. Aku tadi dimintai uang hasil kerjaku sebulan. Aku nggak mau lalu langsung lari. Eh, dikejar sampai sini” kata Naya. Dia mengulurkan tangannya.
“Aku Naya. Maaf ya, aku udah masukin kamu ke urusan keluarga aku,” lanjutnya sambil tersenyum.
“Namaku Dinda” kataku juga seraya memperlihatkan senyumku yang paling manis. Aku jadi teringat dengan kak Rafael, waktu Naya berkata tentang ‘kakak-kakakku’. Beda bener ya…
“Kamu tinggal dimana Nay?” tanyaku.
“Di dekat danau. Danau Dendam. Ibuku punya kios kecil yang menjual es kelapa muda dan jagung bakar. Kalau kamu cari kiosku, cari saja yang atapnya berwarna coklat. Tapi sekarang aku lagi bantu jualan buah di toko pak cik aku” kata Naya. Ternyata, ngobrol dengan Naya asyik juga. Aku baru tahu kalau di Bengkulu ada sebuah danau yang namanya Danau Dendam Tak Sudah. Naya juga berkata kalau dia asli dari Curup tapi pindah ke Bengkulu karena masalah ekonomi.
“Nanti kalau ada waktu, datang kerumahku ya!” katanya. Aku tersenyum mengangguk. Naya harus pulang dulu ke toko buah pamannya.
“Gadis kecil yang baik” gumamku begitu Naya berlalu dari pandangan.
“Dinda!” panggil Kak Rafael. Aku langsung pergi ke kak Rafael.
“Dinda, maafin kakak tadi ya, .kamu sudah nggak marah lagi kan? Oya, tadi Kak Oki cerita sama kakak, kalau di Bengkulu ada danau. Namanya Danau Dendam. Kak Oki bilang, kita boleh kesana untuk menikmati pemandangannya. Kamu mau nggak kesana?”  tanya kak Rafael.
Aku mengangguk. Aku mau bertemu Naya lagi dan menikmati pemandangan danau dendam. Hmm… danau dendam itu bentuknya gimana ya?
***
Bengkulu 24 desember 2009
“Dinda, jadi nggak ke danau dendam?” Tanya kak Rafael. Aku mengangguk, lalu mengambil tas jalan-jalanku dan mengisinya dengan 2 buah gelang buatanku. Tak lupa juga aku membawa handphone dan dompet bergambar Winnie the pooh ku.
Didepan, Kak Oki sudah menunggu kami dengan mobil kijangnya. Aku tak berani menatap wajah Kak Oki yang seram. Hi!
Di mobil, tidak ada yang bersuara. Aku menghidupkan radio di handphoneku dan mendengarkannya melalui headset milik Kak Rafael yang selalu stand by ditasnya. Kak Rafael sendiri menikmati perjalannannya dengan mengotak-atik kameranya.
“Kita sudah sampai” kata Kak Oki. Aku kaget. Ternyata cepat juga ya!
“Kakak akan tunggu di restoran ini. ‘selamat bersenang-senang’ ” kata Kak Oki. Aku dan kak Rafael mengangguk. Kami langsung melihat-lihat danau dan berfoto-foto. Saat aku berpose, tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang. Orang itu berkepang dua dan memakai baju biru. Naya!
“Hai Din!” sapa Naya.
“Oh, hai” kataku sambil mengisyaratkan kak Rafael untuk berhenti memotret.
“Dinda, itu kios ibu ku” kata Naya sambil menunjuk sebuah kios dengan atap coklat. Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Hm.. aku haus nih! Boleh pesan es kelapa 3 nggak?” tanyaku manis pada Naya. Ia tersenyum dan langsung pergi ke kiosnya lagi. seorang ibu paruh baya menyambut Naya dengan senyum. Lalu langsung menyiapkan 3 es kelapa yang kupesan tadi. Sambil menunggu, aku memperhatikan Danau Dendam yang indah. Tapi hatiku bertanya-tanya. Kenapa danau secantik ini dinamakan danau dendam tak sudah ya? Apa ada orang yang dendam mati disini? Tanyaku dalam hati.
“Nih, es kelapanya!” kata Naya. Dia meletakkan 3 es kelapa muda di meja. Kak Rafael langsung menyerbu.
“Minum Nay” kataku sambil mempersilahkan Naya minum es kelapa juga. Naya tersenyum. Kami lalu mengobrol lagi. Naya adalah teman yang sangat asyik diajak ngobrol dan sangat aman jadi tempat curhat.
“Dinda, kamu bisa berenang nggak?” Tanya naya.
“Aku bisa berenang. Eh, gimana kalau kita berenang disini?” Tanyaku. Naya setuju.
“Aku baru mau bilang itu” kata naya tersenyum
“Kita sehati dong” kataku. Aku merogoh tasku dan mengambil sebuah gelang warna biru buatanku.
“Naya, aku punya sebuah gelang untukmu. Dengan gelang ini, anggaplah aku sahabatmu”  kataku. Naya terharu.
“Makasih din, kamu memang sahabat terbaik” kata Naya. Kami lalu berpelukan.
“Naya, aku mau Tanya nih. Mengapa danau ini namanya danau dendam? Apakah ada orang yang dendam disini?” tanyaku bertubi-tubi. Naya tertawa.
“Bukan dong, Dinda. Dulu, waktu orang belanda menjajah kota ini, mereka membuat danau yang disebut dam” kata Naya. Dia menyeruput es kelapanya dulu.
“Oh iya! Negara Belanda kan kaya.  dengan danau dan laut yang dibendung. Pantas aja aku bilang danau den-dam itu mirip nyebut nama kota di Belanda. Rotter-dam, Amster-dam…” kataku mulai mengerti.
“Nah, pemuda di Bengkulu ini tidak suka dengan penjajahan, berontak. Akhirnya, penjajah Belanda meninggalkan danau ini. Tapikan danaunya belum selesai jadi dibendung. Jadi orang disini bilang, dam tak sudah. Jadilah nama danau ini Danau Dendam Tak Sudah” kata Naya. Aku mengangguk-angguk mengerti. Kak Rafael yang juga menguping mengangguk-angguk.
“Tapi Nay, kukira ada dongeng nya” kataku bingung.
“Ada sih. Tapi aku lupa ceritanya, kalau tidak salah, dulu ada cerita tentang dua orang anak yang bermain didanau. Tapi salah seorang dari anak itu meninggal. Terus… aku lupa!” kata nya polos. Aku gemas melihatnya.
“Oya, gimana kalau kita memancing?” Tanya Naya. Aku mengangguk setuju. Kak Rafael mengikuti kami dari belakang.
“Mak, Naya ndak mancing iwak. Bentar… ajo” kata Naya.  Aku lucu mendengarnya. Pasti Naya mengatakannya asal-asalan agar bisa berbahasa Bengkulu campuran didepanku. Ibunya Naya mengizinkan Naya memancing.
“Psst, Dinda, kamu kedepan aja dulu ya. Aku mau ambil pancingannya dulu” kata Naya.
Beberapa saat kemudian, Naya keluar lagi membawa pancingannya. Sebetulnya bukan pancing modern dari fiber yang menggunakan katrol, sih. Cuma sebatang bamboo panjang dan seutas tali layang-layang yang diujungnya ada mata kailnya. Beda juga umpannya. Karena hanya punya jagung, Naya menaruh sebutir biji jagung diujung ‘kail’nya.
“Ayo kita mancing disana aja!” kata Naya menunjuk sebuah tempat teduh tapi bersih. Kami duduk beralaskan daun-daun kering. Naya, aku dan kak Rafael terdiam sejenak menunggu kailku menarik sesuatu. Oya, di danau ini katanya ada ikan lele,sepat, belut dan lain-lain. Kami lalu duduk diam lagi. Kami sengaja berlomba.
“Naya, kamu adalah permata danau paling indah” kataku.
“Lho, kenapa?”
“Karena kamu adalah satu-satunya teman pertamaku yang secantik dan sebening permata dan mempunyai mahkota danau yang indah dan berkilau karena kamu tahu dalam tentang danau”
 “Sok puitis kamu din” kata Naya sambil tersipu.
Tiba-tiba, suara kak Rafael mengagetkanku.
“Aku dapat!” teriak Kak Rafael. Ia mengangkat bambunya sambil melonjak-lonjak. Aku dan Naya terbengong-bengong saat melihat seekor ikan warna hitam melompat. Ikan lele? Bukan. Sepatu butut terkait di ujung kailnya!
“Hahaha…”
***
Hari itu, sangat menyenangkan. Tapi Kak Oki merusak kebahagiaan kami bertiga. Aku dan kak Rafael disuruh pulang. Harikan belum gelap?. Ternyata Kak Oki punya tugas lagi. mengantar kami pulang sebelum jam 2.
“Kak, tanggal 27 nanti antar kami ke danau dendam lagi ya?” kataku. Kak Oki menangguk. Hei! Ternyata Kak Oki baik juga ya!?
“Naya baik ya din” bisik kak Rafael. Aku mengedipkan mataku. Besok, pasti kami akan berenang dan memancing yang lebih seru lagi!
***
27 Desember 2009 pagi
“Naya!” panggilku. Naya sedang menyapu saat itu. Aku meninggalkan kak Rafael. Naya menoleh kearahku.
“Dinda! Hari ini tampaknya aku tidak bisa berenang hari ini. Ibuku tak mengizinkan. Biasanya boleh” katanya sedih. Aku mengintip ke dalam kiosnya Naya. Ibunya naya sedang membakar jagung. Saat ia melihatku, aku langsung berbalik.
“Kita bantu ibumu dulu. Sampai hatinya luluh, baru kita bermain” kataku. Naya mengangguk. Kami berdua masuk kedalam kiosnya naya.
“Bu, kami boleh bantu bakar jagung?” tanyaku sambil memegang tangannya ibu Naya yang kasar. Ibunya Naya berhenti bekerja.
“Ya udah, ibu ke dalam kudai” kata ibu Naya sambil pergi kedalam. Aku dan Naya mengedipkan mata beraksi. Kami membakar jagung dan membuat es kelapa. Memecahkannya lumayan sulit dan aku nggak mau mencobanya.  Nanti bisa balik modal.
Lama kami bekerja, ternyata tidak ditanggapi oleh ibunya Naya. Aku kecapekan. Tiba-tiba, ibunya Naya masuk ke ruangan kios.
“Dek Dinda sudah bantu. Minum dulu es degannya. Terus kalian boleh main deh” kata ibunya Naya. Aku tahu, ibu Naya itu sebenarnya hanya sungkan saja pekerjaannya terbantu.
“Naya! habis kamu selesaikan pesanan terakhir, kita boleh berenang!” seruku.
“Asyik” kami bertos riang bersama.
***
“Tolong” kataku kembali menggapai-gapai bibir air. Naya sudah lemas. Kuguncang tangannya.
“Naya, permata danauku, jangan patah sekarang” aku memohon. Arus danau kian membesar dan menyeret kami semua kedalam sebuah lubang pusaran air. Aku tak dapat melewati kekejaman danau dendam tak sudah. Naya sudah pucat. Bahkan sudah tak sadarkan diri. Ketika saatku untuk menyerah, kudapatkan lagi semangat ketika melihat gelang naya yang masih tergantung dilengan Naya yang sudah tak bertenaga.
“Kamu bisa Dinda!” kataku  bersemangat. Aku menarik tangan Naya dan berusaha semampuku untuk keluar dari lubang maut itu. Tangan Naya dingin. Aku berhasil keluar dari pusaran air itu. Kak Oki dan beberapa pemuda lain tampaknya sudah berhasil berenang menuju kami. Kami dinaikkan ke atas sebuah rakit besar. Aku dan aku sudah tidak ingat lagi…
***
“Dinda, bangun” sebuah dengungan kecil terdengar membangunkan kalbu dan jiwaku yang tidur. Aku sudah tidak berada di danau lagi. aku sekarang berada disebuah ruangan yang berwarna putih dan berbau obat. Ditanganku ada sebuah selang infus. Aku melihat ke sekeliling.
“Mana Naya?” tanyaku pada mamaku yang terkkantuk-kantuk di tempat samping tempat tidurku.
“Naya…Naya sudah…” kak Rafael datang sambil memelukku. Aku terkejut. Naya… sudah…
“Naya sudah apa kak?” tanyaku gemetar. Bayangan-bayangan buruk berkelebat dipikiranku.
“Naya sudah meninggal. Dia meninggal didanau dan tidak sempat dilarikan kerumah sakit” kata Kak Rafael terisak. Aku tersentak. Aku melepaskan kak Rafael yang memelukku. Aku langsung melepas jarum infus yang ada ditanganku. Tanpa memikirkan rasa sakit, aku langsung pergi berlari menuju ke danau dendam. Padahal aku berada di RS Rafflesia. Aku merasakan tubuhku ditarik sebuah magnet, hingga aku berlari cepat… sekali.
“Naya… maafkan aku… gara-gara aku, kamu jadi meninggal didanau ini” kataku terisak. Aku sampai di pinggir danau. Aku melihat Naya ada ditengah danau, tersenyum menatapku dan menghilang. Aku menangis. Tiba-tiba Naya datang dan menggengam tanganku.
“Jangan khawatir Dinda, kita akan main lagi bersama” kata Naya. Aku tersenyum. Tangan Naya yang dingin mengusap air mataku. Naya memegang tanganku dan pergi lagi. dia melambaikan tangannya kearahku. Lalu kembali masuk kedalam danau.
“Naya” aku berteriak lagi. Naya menghilang. Aku melompat kearah danau. Tapi jujur teman, bukan aku yang melompat, tapi danau dendam tak sudah yang menarikku ke dalam danau untuk bermain lagi Naya.
***



Kakakku nakal, cerewet, cemburuan, dingin, suka marah-marah. Tapi paling baik sedunia...

“do!!!” teriak kak sisil. Duh, benar-benar deh. Hari ini sudah 3 kali aku diteriaki begini. Padahal aku lagi asyik mengerjakan prakaryaku, yaitu tempat tisu berbentuk kapal dari stik es-krim. Ada-ada saja yang di perintahkan oleh kak sisil. Mulai dari menyapu kamar, membereskan tempat tidur, meletakkan handuk dan pakaian kotor pada tempatnya, membereskan buku-buku, dan juga lain-lain. Ya ampun... rasanya jengkel banget. Habis, teriakan kak sisil melebih suara ledakan bom atom (sebenarnya nggak segitu juga sih) tapi setiap kak sisil teriak, aku selalu kaget dan stik eskrimku langsung lepas dan menempel di meja. Lemnya juga kuat. Jadi susah dilepas.
“dodo! Sini dong!” kata kak sisil. Malas banget. Jadi kujawab saja singkat.
“malas ah kak. Sebentar” ujarku tak kalah keras.
“penting!” teriak kak sisil lagi.
“tidaaaaaak” teriakku lagi. mungkin kak sisil sekarang sedang menggerutu sambil menghentakkan kakinya. Begitulah kebiasaan kak sisil. Sangking seringnya menghentakkan kaki, ekor elmo yang gemuk terjepit dan dengan refleks mencakar kaki kak sisil yang mulus.
“ya sudah. Kakak Cuma mau kamu pilih eskrim yang kamu suka” kata kak sisil datang kekamarku sambil menjilati eskrim cone blueberry kesukaannya. Dan… aku hanya bisa meneguk air liur melihatnya. Aku berusaha tidak menyesal karena telah menghiraukan panggilan kak sisil.
***
Pulang sekolah hari ini, aku ingin mengecek keadaan PS 2 kak boy, kakak laki-lakiku. Kak boy kembar dengan kak sisil. Tapi kak boy sekarang sudah masuk pesantren laki-laki.
Oya, besok aku mau ulang tahun. Dan, seperti biasa, geng, eh teman-teman ku di kelas mau ke rumah. seperti adat geng ku, jika berulang tahun harus mengundang teman-teman lalu bermain playstation bersama-sama.
“kak sisil, PS kak boy kemana?” tanyaku pada kak sisil. Biasanya kak sisil yang membereskan kamar kak boy dan memegang kuncinya.
“nggak tau. Kamu cari aja deh. Nih kuncinya” kata kak sisil seraya emberikan sebuah kunci yang digantungkan dengan gantungan kunci hello kitty. Kalau kak boy lihat gantungannya, pasti langsung histeris deh!
Sudah 15 menit kususuri kamar kak boy. Padahal tidak terlalu luas. Tapi karena terlalu banyak buku dan mobil-mobilan remote, susah juga mencarinya.
“hah.. capek” ucapku sambil mengusap peluh. Walaupun tadinya aku bersemangat karena teman-temanku mau datang, tapi aku mulai putus asa bagaimana kalau PS-nya kak boy rusak atau nggak ketemu sampai besok? Mati aku.
“kalau di lemari ini nggak ada, gimana ya?”  pikirku. Setelah ‘mengheningkan cipta’ dalam beberapa saat, aku membuka lemari koleksi kak boy. Isinya kumpulan buku komik kesayangan kak boy serta mobil-mobilan kayu yang sering dibuat kak boy saat masih sekolah dasar. Itu dia! Kotak PS berwarna putih biru. Kulirik isinya. Kosong!
Aku hampir menangis. Tapi ketika kudengar pintu kamar kak boy berderit dan wajah kak sisil muncul, seketika kesedihanku berubah jadi gengsi.
“dah temu? Tanya kak sisil. Aku menggeleng.
“kakak lihat tidak?” Tanyaku. Kak sisil menggeleng. Lalu melenggang keluar dengan perasaan tidak bersalah. Aku curiga dengan sikap kak sisil itu. Kuputuskan untuk melapor atas sikap kak sisil itu pada ayah. kebetulan ayahku malam nanti akan pulang dari bandung. Kalau ibu? Ibu sedang pergi ke jepang mengurus S2 nya.
***
Sip! Ayah sedang membaca Koran. Pasti jikalau ditanya hanya menangguk-angguk saja. Cocok buat bertanya tentang hal PS itu.
“yah, ayah lihat playstation kak boy tidak?” Tanyaku pelan.
“apa?”
“PS  kak boy  yang ayah belikan waktu ulang tahun kak boy ke-9”
“ooh”
“ayah tau dimana?”
“mungkin ibu kunci di lemari”
“nggak ada yah”
“ya sudah”
“umm”
“memangnya mau ngapain?”
“besok dodo sama teman-teman mau main yah. Sekali setahun bermain PS. Cuma waktu ulang tahun dodo besok aja yah”
“oh”
“yah, dodo sudah janji sama teman-teman, mau main PS bareng. Kalau nggak ada gimana?”
“ya, maunya gimana?”
“belikan PS dong yah… besokkan dodo ulang tahun”
“hmm… kalau begitu, kita berangkat sekarang saja. Besok ayah mau ke jerman”
“berangkat ke mana?”
“berangkat ke mall dong. Panggilkan kak sisil ya!”
“kok ajak kak sisil sih?”
“ya, kasihan kak sisil ditinggal sendiri. Lagipula ayah sudah janji membelikan kak sisil HP baru. HP kak sisilkan ayah pake”
“o, makasih ya, yah. Aku panggilkan kak sisil dulu ya!”
“ya”
***
“kak  sisil!!!” panggilku.
“ada apa?” Tanya kak sisil dari dalam kamarnya. Sebelum masuk, ku ketuk dulu pintunya. Daripada nanti kak sisil teriak lagi?
“kita diajak ayah pergi ke mall. Ayah mau belikan Hp kakak” kataku sopan.
“ya, kakak ganti baju dulu”
***
Sesampainya di mall, kami pergi dulu ke sebuah toko handphone. Setelah lama memilih, kak sisil memilih Hp merek N97. Layar sentuh, tapi kupikir itu lelet. Tapi kak sisil tidak mengubris dan tetap memilih Hp itu.
Sampai di toko playstation, aku langsung memilih sebuah PS yang  masih baru. Keren. Tapi sebelum aku meminta ayah membayarnya. Kak sisil menepuk pundakku. Aku menoleh. Ayah juga.
“yah,dodo, sebenarnya PS nya kak boy itu sisil yang simpan” kata kak sisil polos tanpa perasaan bersalah. Aku kaget. Begitu juga ayah. dasar kak sisil. Nakal banget sih!
“ya… kenapa kakak tidak bilang?”
“kamu tidak Tanya kok”
“sisil… sisil. Jadi sekarang kamu mau ngapain?”
“mau membelikan dodo kaset PS 2 Dan membelikan memory card buat dodo sebagai hadiah ulang tahun dodo” kata kak sisil lagi.
“ah.. kakak emang pintar dan baik” kata ayah tersenyum. Aku juga mengangguk-angguk.
“kak, kenapa kakak menyimpannya?”
“karena kalian berdua (aku dan kak boy) suka bermain berdua saja. Aku tidak pernah diajak main. Terus kalian tidak pernah membersihkannya sih” ujar kak sisil.
Ah, mulai lagi deh, sifat cerewet dan cemburuan kak sisil.
***