Bengkulu 27 Desember 2009 siang
“Jangan main jauh-jauh ya, nanti tenggelam!” sahut kak Rafael.
Aku dan Naya, teman baruku tersenyum kecil. Kami berdua kan jago berenang. Nggak perlu dicemaskan dong. Pikirku.
Tapi tiba-tiba, sesuatu menyeret kami berdua. Arus danau dendam yang kuat, langsung menyeret kami ke tengah. Kak Rafael yang jelas tidak bisa berenang, langsung memanggil Kak Oki dan langsung menyelamatkan kami. Semua kejadian begitu cepat. Aku melihat Naya menggapai-gapai lemas. Seperti kekuatan berenang kami hilang, kami tak bisa melawan. Semuanya lalu gelap.
***
Bengkulu, 20 Desember 2009
Pagi ini, aku dan keluargaku sampai juga di rumah Opa dan Omaku yang ada di Bengkulu. Kami datang dari Jakarta untuk membesuk Opa yang sedang sakit. Mulanya, aku sangat tidak suka dengan keadaan disini. Gara-gara aku sudah membuat rencanan berkemah dengan sahabat-sahabat ku yang ada di Jakarta. Tapi pemandangan dan masakan oma yang berbeda dari yang di rumahku membuat hatiku gembira juga sampai di Bengkulu.
“Kak Rafa, kemarin janji temanin dinda lihat bunga Raflesia kan?” tanyaku pada kakakku yang paling baik sedunia itu. Oya, rumah Opa ku ada di Sukamerindu. Opa ku dulu dosen. Tapi sekarang sudah pensiun dan diurus oleh adik ayahku, Tante Fina.
“Iya. Pokoknya beres. Nanti kita minta antarin abang Oki ya!” kata Kak Rafael. Aku bergidik. Kak Oki itu kakak sepupuku yang tampangnya seram. Umurnya baru 16 tahun. Tapi tampangnya kayak bapak-bapak 40 tahun. Kak Oki adalah satu-satunya anak Tante Fina.
“Masa sama Kak Oki sih?” aku memasang tampang ketakutan. Kak Rafael tertawa-tawa. Aku cemberut. Kak Rafael tambah tertawa lagi.
“Kak Rafa egois!” kataku cepat. Aku memang sangat suka ngambek. Jadi aku langsung lari keluar. Kak Rafael berhenti tertawa dan merasa bersalah. Tapi aku sudah terlanjur lari keluar.
***
Aku masih menangis di bawah sebuah pohon beringin yang lumayan besar dan teduh. Tiba-tiba, ada seseorang yang menabrak tubuhku dari belakang. Ketika aku menoleh, ada seorang anak sebayaku sedang tergesa-gesa seperti dikejar hantu.
“Ma… maaf” katanya buru-buru. Anak itu mau berlari lagi tapi tiga orang anak laki-laki yang mengejarnya, sudah mendatanginya.
“Mau kemana lagi kamu Naya?” kata seorang anak laki-laki yang paling jangkung.
“Tampar aja kak!” kata anak laki-laki lain yang bertopi merah. Mereka langsung mendekati Naya dan ingin memukulnya. Aku yang pintar karate (sebenarnya, nggak juga sih!) tidak bisa tinggal diam, ada penganiayaan di depanku !
“Stop!!!” teriakku. Anak yang paling jangkung itu menghentikan tangannya yang sudah berada tepat di atas pipi gadis yang ternyata bernama Nayai.
“Mau apa kamu gadis kecil?” tanya seorang anak lagi yang memakai kaos warna hitam dengan kasar. Kalau diukur dengan ukuran anak SMP, tubuhku memang mungil dan kerap diremehkan.
“Jangan sakiti dia!” kataku cepat.
“Mau jadi pahlawan kesiangan ya?” tanya si jangkung meremehkan. Tak buang-buang waktu aku langsung menendang perutnya. Melihat kakaknya jatuh, kedua anak lain langsung menyerangku. Kekuatanku memang kecil, tapi setelah ku tendang kepala mereka,, mereka berdua langsung jatuh terkapar.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Naya. Aku menggeleng.
“Ada apa sih? Kok mereka nyerang kamu?” tanyaku sambil duduk lagi. Ketiga anak tadi sudah bangkit dan langsung kabur.
“Mereka kakak-kakakku. Aku tadi dimintai uang hasil kerjaku sebulan. Aku nggak mau lalu langsung lari. Eh, dikejar sampai sini” kata Naya. Dia mengulurkan tangannya.
“Aku Naya. Maaf ya, aku udah masukin kamu ke urusan keluarga aku,” lanjutnya sambil tersenyum.
“Namaku Dinda” kataku juga seraya memperlihatkan senyumku yang paling manis. Aku jadi teringat dengan kak Rafael, waktu Naya berkata tentang ‘kakak-kakakku’. Beda bener ya…
“Kamu tinggal dimana Nay?” tanyaku.
“Di dekat danau. Danau Dendam. Ibuku punya kios kecil yang menjual es kelapa muda dan jagung bakar. Kalau kamu cari kiosku, cari saja yang atapnya berwarna coklat. Tapi sekarang aku lagi bantu jualan buah di toko pak cik aku” kata Naya. Ternyata, ngobrol dengan Naya asyik juga. Aku baru tahu kalau di Bengkulu ada sebuah danau yang namanya Danau Dendam Tak Sudah. Naya juga berkata kalau dia asli dari Curup tapi pindah ke Bengkulu karena masalah ekonomi.
“Nanti kalau ada waktu, datang kerumahku ya!” katanya. Aku tersenyum mengangguk. Naya harus pulang dulu ke toko buah pamannya.
“Gadis kecil yang baik” gumamku begitu Naya berlalu dari pandangan.
“Dinda!” panggil Kak Rafael. Aku langsung pergi ke kak Rafael.
“Dinda, maafin kakak tadi ya, .kamu sudah nggak marah lagi kan? Oya, tadi Kak Oki cerita sama kakak, kalau di Bengkulu ada danau. Namanya Danau Dendam. Kak Oki bilang, kita boleh kesana untuk menikmati pemandangannya. Kamu mau nggak kesana?” tanya kak Rafael.
Aku mengangguk. Aku mau bertemu Naya lagi dan menikmati pemandangan danau dendam. Hmm… danau dendam itu bentuknya gimana ya?
***
Bengkulu 24 desember 2009
“Dinda, jadi nggak ke danau dendam?” Tanya kak Rafael. Aku mengangguk, lalu mengambil tas jalan-jalanku dan mengisinya dengan 2 buah gelang buatanku. Tak lupa juga aku membawa handphone dan dompet bergambar Winnie the pooh ku.
Didepan, Kak Oki sudah menunggu kami dengan mobil kijangnya. Aku tak berani menatap wajah Kak Oki yang seram. Hi!
Di mobil, tidak ada yang bersuara. Aku menghidupkan radio di handphoneku dan mendengarkannya melalui headset milik Kak Rafael yang selalu stand by ditasnya. Kak Rafael sendiri menikmati perjalannannya dengan mengotak-atik kameranya.
“Kita sudah sampai” kata Kak Oki. Aku kaget. Ternyata cepat juga ya!
“Kakak akan tunggu di restoran ini. ‘selamat bersenang-senang’ ” kata Kak Oki. Aku dan kak Rafael mengangguk. Kami langsung melihat-lihat danau dan berfoto-foto. Saat aku berpose, tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang. Orang itu berkepang dua dan memakai baju biru. Naya!
“Hai Din!” sapa Naya.
“Oh, hai” kataku sambil mengisyaratkan kak Rafael untuk berhenti memotret.
“Dinda, itu kios ibu ku” kata Naya sambil menunjuk sebuah kios dengan atap coklat. Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Hm.. aku haus nih! Boleh pesan es kelapa 3 nggak?” tanyaku manis pada Naya. Ia tersenyum dan langsung pergi ke kiosnya lagi. seorang ibu paruh baya menyambut Naya dengan senyum. Lalu langsung menyiapkan 3 es kelapa yang kupesan tadi. Sambil menunggu, aku memperhatikan Danau Dendam yang indah. Tapi hatiku bertanya-tanya. Kenapa danau secantik ini dinamakan danau dendam tak sudah ya? Apa ada orang yang dendam mati disini? Tanyaku dalam hati.
“Nih, es kelapanya!” kata Naya. Dia meletakkan 3 es kelapa muda di meja. Kak Rafael langsung menyerbu.
“Minum Nay” kataku sambil mempersilahkan Naya minum es kelapa juga. Naya tersenyum. Kami lalu mengobrol lagi. Naya adalah teman yang sangat asyik diajak ngobrol dan sangat aman jadi tempat curhat.
“Dinda, kamu bisa berenang nggak?” Tanya naya.
“Aku bisa berenang. Eh, gimana kalau kita berenang disini?” Tanyaku. Naya setuju.
“Aku baru mau bilang itu” kata naya tersenyum
“Kita sehati dong” kataku. Aku merogoh tasku dan mengambil sebuah gelang warna biru buatanku.
“Naya, aku punya sebuah gelang untukmu. Dengan gelang ini, anggaplah aku sahabatmu” kataku. Naya terharu.
“Makasih din, kamu memang sahabat terbaik” kata Naya. Kami lalu berpelukan.
“Naya, aku mau Tanya nih. Mengapa danau ini namanya danau dendam? Apakah ada orang yang dendam disini?” tanyaku bertubi-tubi. Naya tertawa.
“Bukan dong, Dinda. Dulu, waktu orang belanda menjajah kota ini, mereka membuat danau yang disebut dam” kata Naya. Dia menyeruput es kelapanya dulu.
“Oh iya! Negara Belanda kan kaya. dengan danau dan laut yang dibendung. Pantas aja aku bilang danau den-dam itu mirip nyebut nama kota di Belanda. Rotter-dam, Amster-dam…” kataku mulai mengerti.
“Nah, pemuda di Bengkulu ini tidak suka dengan penjajahan, berontak. Akhirnya, penjajah Belanda meninggalkan danau ini. Tapikan danaunya belum selesai jadi dibendung. Jadi orang disini bilang, dam tak sudah. Jadilah nama danau ini Danau Dendam Tak Sudah” kata Naya. Aku mengangguk-angguk mengerti. Kak Rafael yang juga menguping mengangguk-angguk.
“Tapi Nay, kukira ada dongeng nya” kataku bingung.
“Ada sih. Tapi aku lupa ceritanya, kalau tidak salah, dulu ada cerita tentang dua orang anak yang bermain didanau. Tapi salah seorang dari anak itu meninggal. Terus… aku lupa!” kata nya polos. Aku gemas melihatnya.
“Oya, gimana kalau kita memancing?” Tanya Naya. Aku mengangguk setuju. Kak Rafael mengikuti kami dari belakang.
“Mak, Naya ndak mancing iwak. Bentar… ajo” kata Naya. Aku lucu mendengarnya. Pasti Naya mengatakannya asal-asalan agar bisa berbahasa Bengkulu campuran didepanku. Ibunya Naya mengizinkan Naya memancing.
“Psst, Dinda, kamu kedepan aja dulu ya. Aku mau ambil pancingannya dulu” kata Naya.
Beberapa saat kemudian, Naya keluar lagi membawa pancingannya. Sebetulnya bukan pancing modern dari fiber yang menggunakan katrol, sih. Cuma sebatang bamboo panjang dan seutas tali layang-layang yang diujungnya ada mata kailnya. Beda juga umpannya. Karena hanya punya jagung, Naya menaruh sebutir biji jagung diujung ‘kail’nya.
“Ayo kita mancing disana aja!” kata Naya menunjuk sebuah tempat teduh tapi bersih. Kami duduk beralaskan daun-daun kering. Naya, aku dan kak Rafael terdiam sejenak menunggu kailku menarik sesuatu. Oya, di danau ini katanya ada ikan lele,sepat, belut dan lain-lain. Kami lalu duduk diam lagi. Kami sengaja berlomba.
“Naya, kamu adalah permata danau paling indah” kataku.
“Lho, kenapa?”
“Karena kamu adalah satu-satunya teman pertamaku yang secantik dan sebening permata dan mempunyai mahkota danau yang indah dan berkilau karena kamu tahu dalam tentang danau”
“Sok puitis kamu din” kata Naya sambil tersipu.
Tiba-tiba, suara kak Rafael mengagetkanku.
“Aku dapat!” teriak Kak Rafael. Ia mengangkat bambunya sambil melonjak-lonjak. Aku dan Naya terbengong-bengong saat melihat seekor ikan warna hitam melompat. Ikan lele? Bukan. Sepatu butut terkait di ujung kailnya!
“Hahaha…”
***
Hari itu, sangat menyenangkan. Tapi Kak Oki merusak kebahagiaan kami bertiga. Aku dan kak Rafael disuruh pulang. Harikan belum gelap?. Ternyata Kak Oki punya tugas lagi. mengantar kami pulang sebelum jam 2.
“Kak, tanggal 27 nanti antar kami ke danau dendam lagi ya?” kataku. Kak Oki menangguk. Hei! Ternyata Kak Oki baik juga ya!?
“Naya baik ya din” bisik kak Rafael. Aku mengedipkan mataku. Besok, pasti kami akan berenang dan memancing yang lebih seru lagi!
***
27 Desember 2009 pagi
“Naya!” panggilku. Naya sedang menyapu saat itu. Aku meninggalkan kak Rafael. Naya menoleh kearahku.
“Dinda! Hari ini tampaknya aku tidak bisa berenang hari ini. Ibuku tak mengizinkan. Biasanya boleh” katanya sedih. Aku mengintip ke dalam kiosnya Naya. Ibunya naya sedang membakar jagung. Saat ia melihatku, aku langsung berbalik.
“Kita bantu ibumu dulu. Sampai hatinya luluh, baru kita bermain” kataku. Naya mengangguk. Kami berdua masuk kedalam kiosnya naya.
“Bu, kami boleh bantu bakar jagung?” tanyaku sambil memegang tangannya ibu Naya yang kasar. Ibunya Naya berhenti bekerja.
“Ya udah, ibu ke dalam kudai” kata ibu Naya sambil pergi kedalam. Aku dan Naya mengedipkan mata beraksi. Kami membakar jagung dan membuat es kelapa. Memecahkannya lumayan sulit dan aku nggak mau mencobanya. Nanti bisa balik modal.
Lama kami bekerja, ternyata tidak ditanggapi oleh ibunya Naya. Aku kecapekan. Tiba-tiba, ibunya Naya masuk ke ruangan kios.
“Dek Dinda sudah bantu. Minum dulu es degannya. Terus kalian boleh main deh” kata ibunya Naya. Aku tahu, ibu Naya itu sebenarnya hanya sungkan saja pekerjaannya terbantu.
“Naya! habis kamu selesaikan pesanan terakhir, kita boleh berenang!” seruku.
“Asyik” kami bertos riang bersama.
***
“Tolong” kataku kembali menggapai-gapai bibir air. Naya sudah lemas. Kuguncang tangannya.
“Naya, permata danauku, jangan patah sekarang” aku memohon. Arus danau kian membesar dan menyeret kami semua kedalam sebuah lubang pusaran air. Aku tak dapat melewati kekejaman danau dendam tak sudah. Naya sudah pucat. Bahkan sudah tak sadarkan diri. Ketika saatku untuk menyerah, kudapatkan lagi semangat ketika melihat gelang naya yang masih tergantung dilengan Naya yang sudah tak bertenaga.
“Kamu bisa Dinda!” kataku bersemangat. Aku menarik tangan Naya dan berusaha semampuku untuk keluar dari lubang maut itu. Tangan Naya dingin. Aku berhasil keluar dari pusaran air itu. Kak Oki dan beberapa pemuda lain tampaknya sudah berhasil berenang menuju kami. Kami dinaikkan ke atas sebuah rakit besar. Aku dan aku sudah tidak ingat lagi…
***
“Dinda, bangun” sebuah dengungan kecil terdengar membangunkan kalbu dan jiwaku yang tidur. Aku sudah tidak berada di danau lagi. aku sekarang berada disebuah ruangan yang berwarna putih dan berbau obat. Ditanganku ada sebuah selang infus. Aku melihat ke sekeliling.
“Mana Naya?” tanyaku pada mamaku yang terkkantuk-kantuk di tempat samping tempat tidurku.
“Naya…Naya sudah…” kak Rafael datang sambil memelukku. Aku terkejut. Naya… sudah…
“Naya sudah apa kak?” tanyaku gemetar. Bayangan-bayangan buruk berkelebat dipikiranku.
“Naya sudah meninggal. Dia meninggal didanau dan tidak sempat dilarikan kerumah sakit” kata Kak Rafael terisak. Aku tersentak. Aku melepaskan kak Rafael yang memelukku. Aku langsung melepas jarum infus yang ada ditanganku. Tanpa memikirkan rasa sakit, aku langsung pergi berlari menuju ke danau dendam. Padahal aku berada di RS Rafflesia. Aku merasakan tubuhku ditarik sebuah magnet, hingga aku berlari cepat… sekali.
“Naya… maafkan aku… gara-gara aku, kamu jadi meninggal didanau ini” kataku terisak. Aku sampai di pinggir danau. Aku melihat Naya ada ditengah danau, tersenyum menatapku dan menghilang. Aku menangis. Tiba-tiba Naya datang dan menggengam tanganku.
“Jangan khawatir Dinda, kita akan main lagi bersama” kata Naya. Aku tersenyum. Tangan Naya yang dingin mengusap air mataku. Naya memegang tanganku dan pergi lagi. dia melambaikan tangannya kearahku. Lalu kembali masuk kedalam danau.
“Naya” aku berteriak lagi. Naya menghilang. Aku melompat kearah danau. Tapi jujur teman, bukan aku yang melompat, tapi danau dendam tak sudah yang menarikku ke dalam danau untuk bermain lagi Naya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bicara, hati-hati!
Tapi kalian bisa ngomong apa saja kok di kotak fira!