“Tau nggak? Ronaldo kemaren keren banget lho!” kata dino berapi-api. Beberapa anak laki-laki yang lain juga. Mereka sibuk mendukung tim kesebelasan mereka masing-masing. Ya ampun. Mereka sibuk membicarakannya selama jam istirahat pertama sebelum datang jam pelajaran, jam pelajaran, istirahat, sampai jam pulangpun mereka sibuk. Aku yang kutu buku tidak pernah bergabung dengan mereka. Soalnya, aku tidak tahu sama sekali tentang pemain-pemain bola. Yang kuhapal adalah nama-nama penemu. Masa bodoh soal pemain bola.
“andra! Siapa jagoan kamu?” Tanya bobi yang tiba-tiba duduk dimejaku.
“Alexander graham bell” jawabku polos. Bobi tergelak.
“hahaha, jagoan bola boy. Bukan penemu!” kata bobi lagi. Ia menunggu memberikan jawaban.
“…”
“maradona mungkin” jawabku. Lagi-lagi bobi tertawa. Kali ini malah makin dan keras.
Begitu bobi berhenti tertawa, ia berdiri.
“ya sudah, aku capek nanya sama orang jadul” kata bobi akhirnya sambil melenggang ia pergi. Topan yang kasihan padaku, langsung membisikkan beberapa kata.
“maradona itu sekarang dah pensiun dan jadi pelatih argentina” bisiknya. Aku tertegun. Ya ampun… ternyata aku sudah kuno banget. Tahu nama maradona saja gara-gara sekilas menonton iklan bintang lapangan bola yang top. Aku memutuskan untuk pergi ke toko buku. Ya, untuk sekedar mencari refrensi tentang FIFA world cup tahun ini. Di toko itu aku baru tahu juga bahwa piala dunia itu dilaksanakan di afrika selatan. Nah, akhirnya aku menemukan sebuah kotak berisi kumpulan semua nama pemain bola, sejarahnya, klubnya, juga jadwal pertandingan bolanya. Wow, segera kubawa kekasir. Aku terbelalak dengan harganya! Ya ampun, kering kantong ku jadinya.
***
Malam ini, aku sibuk membaca info bola yang baru kubeli di toko. Aku baru ingat bahwa besok ujian fisika. Ya, walaupun aku ingat seluruh rumusnya, aku harus belajar juga. Baru mau mulai belajar, pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Aku membuka pintu. Oh, joni, teman sekelasku yang kebetulan rumahnya pas disamping rumahku.
“dra, temanin aku nonton bola yuk!” ajak joni. Yaampun, malam-malam begini.
“kok malam sih?” Tanya ku.
“katanya kamu cowok paling jenius disekolah? Nggak tahu perbedaan waktu antara Indonesia dan afsel ya?” Tanya joni. Aku menggaruk-garuk kepalaku.
“boleh lah. Tapi satu pertandingan aja ya” kataku. Kebetulan ortu lagi nggak dirumah gara-gara pergi ke medan. Keambil kunci rumah dan mengunci pintu rumah. Kuncinya kubawa, biar bisa masuk lagi.
Pertandingan antara Portugal vs Spanyol memang seru. Sekali-sekali aku menguap. Pertandingan selesai dengan skor seri. Kulihat joni sibuk sms-an dengan temannya. Saat pertadingan selesai, hp joni berdering 17 kali. Saatnya aku pamit pulang…
“jon, aku pulang dulu ya” kataku sambil menguap untuk ke-10 kalinya. Waktu aku keluar, ya ampun… ternyata hujan! Karena tidak enak dengan joni, aku nekat hujan-hujan berlari kearah rumahku. Sebenarnya jaraknya Cuma 25 meter. Tapi aku belum pernah sekalipun hujan-hujanan seperti ini. Dirumah, aku kehilangan kunci.
“waduh, brrr… gimana mau masuk ya? Kuncinya mungkin ketinggalan dirumah joni. Kupaksakan lagi hujan-hujanan buat kerumah joni. Tapi setelah kuketuk-ketuk lagi pintunya, joni tidak menyahut. Samar-samar kudengar joni mendengkur. Aku pulang lagi kerumah. Menunggu mukjizat allah. Semoga mbok rasti menyadari kalau aku keluar malam-malam dan keluar mencariku. Duh dingin banget. Gara-gara bola nih! Pasti aku besok demam. Duh, kapok!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bicara, hati-hati!
Tapi kalian bisa ngomong apa saja kok di kotak fira!