semua...........

Kamis, 02 Desember 2010

Cuma Jadi Saksi Bisu

Apakah kalian kenal aku?  Pasti nggak. Soalnya aku adalah salah satu murid kuper yang jarang banget ngomong dan penakut. Jadi aku maklum kalau kalian tidak mengetahui namaku.
Aku fita, anak kelas reguler eksekutif yang anggotanya Cuma 20. Aku selalu duduk dibangku pojok kiri belakang sendirian. Padahal aku orangnya penakut. Walau begitu, aku ngotot untuk tidak ganti tempat duduk. Aku pernah diajak oleh cici untuk duduk disebelahnya. Tapi aku malu. Masa ketua osis mau duduk sama  anak kuper? Nanti ikut-ikutan aku deh.
“eh kuper, ambilin bola bekel kami dong!” seru mia . Aku kaget. Mataku menatap sekeliling. Tidak ada bola bekel. Eh, itu dia!
“ah lama banget nih! Dasar, kuper masa cari bola aja nggak ketemu!” kata eva. Ia merampas bola bekel dari tanganku. Aku mendesah pelan. Aku tidak mau mencari masalah. Soalnya hanya karena membentak, aku bisa dihukum jemur lapangan seharian. Soalnya ketua kelas kami galak sekali. tapi tampaknya galaknya hanya untuk menindas orang kecil sepertiku.
“maaf…”kataku pelan. Mereka beranjak dari tempat mereka bermain. Aku kembali menulis sesuatu di atas buku notes kecilku. Aku selalu menyelipkannya di saku, dan hanya mengeluarkannya jika sedang sendiri. Aku melirik seisi kelas, mencari inspirasi. Kelasku merupakan kelas kosong. Meja dan kursi tidak ada. Hanya ada bantal-bantal lucu. Kami duduk lesehan di atas karpet besar beludru. Kelas kami kelas eksekutif. Kami diperbolehkan makan sambil belajar (asal tidak berserakan). Tidur-tiduran sambil belajar, tapi jangan tidur ya! Selain itu ada 3 set computer di atas meja kecil. Lalu di salah satu dinding ada 20 loker kami. Setelah itu ada rak buku besar yang isinya buku pelajaran dan buku cerita.
“fit, ikut aku ke kantin yuk!” ajak widy menganggetkan ku. widy merupakan anak gaul, tapi ia hanya berteman dengan delli dan dhea. Kadang-kadang bersamaku.
“aku di kelas aja” kataku pelan. Aku tidak berani bersuara keras-keras. Soalnya William (ketua kelas yang benci padaku) sedang tidur dipojok kelas. Aku takut.
“ya sudah” kata widy menyerah dan meninggalkanku sendiri. Aku membuka lagi halaman notes kecilku yang sebentar lagi perlu diganti. Tiba-tiba, randy masuk ke kelas.
“mana eva?” tanyanya pada widy, delli dan dhea keras. Aku  menggeleng-geleng cepat. Lalu kejadian itu aku catat di buku notes. Duh, randy memang tidak tahu sopan santun. Sudah tahu dhea paling tua dikelas, tidak hormat sama sekali!
Randy berjalan menuju William yang tengah tidur nyenyak. Stoop!
“dhuk!” randy menendang punggung William dengan keras. Aku, widy, dhea dan delli tersentak. Duh… bakal ada pertarungan nih! Randy dan William bermusuhan. Mereka pernah menciptakan perang dunia ke 3.
“aku bersingut lagi kea rah loker. Loker-loker besar seukuran lemari yang berfungsi menyimpan buku-tas dan laptop. Aku lalu diam-diam membuka lokerku yang untungnya nggak jauh dariku. Aku bersembunyi didalamnya. Hal itu adalah kebiasaanku. Untung lemarinya bisa memuat badanku. Celah-celahnya kupakai buat mengintip.
Randy dan William mulai berpandangan tajam. Widy melirik ke arah lokerku. Diantara 19 orang di kelas ini, hanya widy yang sering mengajakku ngobrol. Bagiku, widy adalah sahabat sejatiku.
“kenapa kamu tendang aku!” kata William memulai pertengkaran. Ia pantas marah, karena randy menendangnya dengan sengaja.
“aku Tanya dimana eva!” kata randy. Sekilas pesan ya,eva itu adalah pacarnya randy.
“nggak perlu tendang gitu dong!”
“ya sudah, maaf bego!” kata randy. Ia mulai mengeluarkan kata-kata terlarang (kalau dikatakan didepan William)
“berani banget kamu!”
“kenapa mesti takut?”
“kamu ngatain aku bego tau! Aku ini ketua kelas. Ini penghinaan!” teriak William  keras. Sekali lagi widy menatapku. Caranya memandang seperti meminta ikut masuk ke loker dan bersembunyi dari perang antara William dan randy.
“iyalah, habis kamu tidur sembarangan” kata randy tenang. Memang anak ini suka memprovokator kemarahan orang.
“emangnya aku sampah? Main tendang aja!” ujar William keras. Mereka berdua tampaknya tidak ada yang mau mengalah.
“iya!” kata randy mengejek. Dengan tenangnya ia berjalan meninggalkan kelas. William mulai mengepalkan tangannya. Dan… dhuak! Sebuah tinjuan dari tangan William bersarang di pipi randy. Randy membalas. Tapi tendangannya tidak tepat ke perut William. Tapi tendangan itu membuat William jatuh. Kakinya sakit. Ia menendang perut randy. Kedua-duanya terjatuh. Aku bingung. Kalau sudah begini, randy akan melempar apapun yang ada di dekatnya dan William akan menghancurkan benda-benda didepannya.
“rasakan nih!” kata randy melemparkan penghapus papan tulis ke muka William. William mengelak. Selanjutnya, randy melempar peruncing milik sandy. Aku hampir berteriak. Peruncing itu terlempar tepat di kepala William. Kepala William berdarah. Ia membalas dengan melempar sebuah pot bunga. Tapi malah meleset kea rah tempatku duduk tadi. Untunglah aku sekarang sudah bersembunyi di dalam loker.
“prang!!!” suara pot pecah itu sangat besar dan menimbulkan keributan. Semua anak kelasku masuk secara tiba-tiba. Aku terdiam sesaat…
“pukul!! Pukul!! Pukul!!” kata sebagian. Ya ampun… bukannya melerai, mereka malah mendukung aksi perang dunia randy dan William.
Randy marah, karena pendukungnya sedikit. Ia mulai melempar barang-barang kearah penonton. Beberapa anak terkena lemparan penghapus dan spidol guru. Mereka marah, dan mengkroyok randy.
Suasana makin gaduh saat widy mulai bertindak. Ia melerai kedua pembuat onar. Orang-orang dikelas marah widy melerai mereka. Karena, saat itu adalah saat uyang tepat untuk membalas perlakuan randy yang kejam. Banyak anak ditendang, dipukul, dimaki, dan sekaranglah saat untuk membalasnya.
“berhenti!!!” teriak widy. Badannya yang kecil hampir tergencet bobi dan agam yang besar. Rupanya teriakan widy Ini membuat perkelahian berhenti sejenak.
“hentikan perkelahian ini!” serunya. Namun anak-anak tidak ingin berhenti malah ada yang melempari widy dengan spidol. Widy tetap tidak berhenti. Ia meneriakkan kata-kata untuk menenangkan perkelahian. Tapi mereka tidak mau mendengar.
Syuut… sebuah gunting meluncur kearah widy. Widy mengelak, tapi gunting itu mengenai tangannya. Ia berteriak sesaat. Sekarang dari tangannya mengucur darah. Aku menggigit bibir, tidak bisa apa-apa. Kelasku kini hancur. Rak buku sekarang kosong, karena bukunya sudah  berserakan menjadi senjata anak-anak. Spidol dan penghapus, bunga pajangan, semuanya berserak bercampur darah widy yang masih mengalir. Bantal-bantal sekarang sudah keluar isinya. Semua anak menghentikan pertarungan dan menatap tangan widy. Kepala William masih mengeluarkan darah. Aku menutup mataku sebentar. Aku takut darah. Sesaat kemudian, aku mendengar suara ibu tina, wali kelas kami, bu tina melerai William dan randy. Sayup-sayup aku mendengar suara bu tyas, guru kesehatan sekolah. Bu tyas mengkomando para anggota pmr sekolah untuk membawa William dan widy. Sekali lagi widy melirik kearahku. Aku ngeri melihat tangannya yang bersimbah darah. Ketika kelas sudah agak sepi, aku keluar dari loker. Bu tina memandangku heran.
“kamu dari tadi disana fita?” Tanya bu tina. Aku mengangguk.
“kalau begitu kamu tidak ikut berkelahikan?” Tanya bu tina. Sekali lagi aku mengangguk. Bu tina tersenyum puas. Aku tahu, bu tina pasti senang menemukan orang yang non blok.
“ikut ibu kekantor ya, kamu pasti bisa menceritakan semuanya sama ibu. Ibu pusing, semuanya berkata kalau widy yang memulai pertengkaran” kata ibu tina. Aku kaget. Lalu menggeleng.
“nggak bu, widy Cuma melerai” kataku pelan. Aku ikut ke kantor dan disuruh menceritakan semuanya. Aku menceritakan kronologis kejadian dengan sangat lengkap. Ibu tina mengangguk-angguk.
“terimakasih fita, kamu sudah menceritakan semuanya. Mungkin sekarang ibu bisa mempertimbangkan hukuman buat mereka berdua” kata bu tina. Aku mengangguk. Tapi yang paling ingin aku ketahui keadaannya adalah widy.
Widy terbaring lemah di salah satu kasur uks. Tangannya sudah dibalut perban. Disampingnya William mengeluh kan kepalanya yang masih perih. Uks disana sudah kosong, karena semua anak-anak lain sedang di ceramahi oleh pak Julian, kepala sekolah kami. Mereka di nasihati oleh bu tyas untuk tidak berkelahi lagi. yang paling aneh randy. Dia tidak luka sedikit pun. Walaupun sudah dihajar massal.
“widy…” ujarku pelan (selalu pelan) widy membalikkan kepalanya. Menatapku. Tapi yang paling pertama dilakukannya adalah mencubit perutku.
“auw!” kataku. Kali ini kencang. Widy tersenyum.
“kenapa tidak ikut melerai tadi!” katanya tajam tapi aku tahu maksudnya bercanda.
“aku takut dy, aku nggak suka berkelahi. Lagi pula aku sudah lupa bagaimana caranya berkelahi” kataku bergurau. William dan widy tertawa. Hei! Aku baru pertama kali melihat William tertawa karenaku.
“mamang, tapi lain kali teriak dong, atau lapor sama guru” kata widy menasihati. Aku mengangguk.
“sayang sekali, kamu Cuma jadi saksi bisu” kata widy. Aku tertegun.
Aku memang saksi bisu, dan aku sudah membiarkan widy terluka hanya karena aku Cuma ingin jadi
Saksi bisu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bicara, hati-hati!
Tapi kalian bisa ngomong apa saja kok di kotak fira!